Monday, June 26, 2006

dan saya kembali tersenyum


Sudah hampir 3 bulan ini, Seiko 6138-0011 ku macet, gak mau jalan, digoyang-goyang, paling cuman 5 menitan.

Kenapa nih? Pikir-pikir kalo dibawa ke Seiko Center, mungkin bisa dibetulin, tapi apa iya ada partsnya? Maklum jam udah tua.

Kemarin aku ketemu kenalan di ITC Fatmawati, disana ada toko jam kecil yang pernah buka di Aldiron Plaza, jaman tahun 80-an.

Saya pun kesana dan bertemu dengan Vincent, sang empunya toko.
Oleh Vincent, kenalan saya itu, jam saya dibuka, dicek semua.
“Wah Pak, ada yang rusak nih dan karatan lagi!”
“Bisa kita benerin dan kita ganti partsnya yang rusak!”
“Ongkosnya berapa?” tanya saya.

“600 ribu aja!”.
Gila, dalam hati saya, kok ya mahal bener.
“Ya udah deh, tolong ditutup lagi jam saya, nanti kalo saya udah punya uangnya saya kembali lagi!”

Wah, dengan duit segitu saya bisa beli macam-macam untuk Abi (anak saya tercinta).
Akhirnya saya datang ke Pasar Santa, Kebayoran Baru, disana ada tukang jam pinggir jalan, yang hanya bermodalkan kotak sangat sederhana. Sudah pernah saya kesana untuk membetulkan jarum jam yang sempat “mencelat”, dan dia dapat membetulkannya dengan ongkos sangat murah, hanya 5000 perak.

Saya datangi dia.
"Bisa benerin jam ini gak?"
"Dia udah lama macet!"
"Saya coba service ya Pak, besok coba Bapak kembali!”

Esok harinya saya kesana, dan jam saya sudah menyala lagi.
Alhamdulilah.
Tukang itu memang bilang, kalo ada parts yang udah karat, dan capit udang-nya bermasalah (benda apa lagi ini?)sehingga pengisian ke pernya udah gak bagus.

"Tapi udah saya akalin Pak, sehingga bisa jalan lagi; sedikit saya bengkok-kan!" katanya.

Wah, teman-teman, saya ndak tau apakah ini melanggar etika dalam peng-koleksian jam, yang harus serba orisinil.Tapi layaknya juga mobil tua menurut saya, kalo memang partsnya udah susah dicari, dan mungkin ada tapi harganya selangit, buat saya jika akhirnya bisa berjalan kembali dan berputar 24 jam, itu sudah patut disyukuri. Maafkan saya jika salah, tapi dengan uang 35.000 (ongkos yang saya bayar).....saya bisa kembali tersenyum.

Thursday, May 11, 2006

Saya dan Jam Tangan

Buat saya, jam tangan bukan sekedar alat penunjuk waktu. Bukan juga identitas. Tapi lebih karena saya menyukai wujudnya, bentuk dan desainnya. Mungkin buat sementara orang, teknologi adalah nomor satu, tetapi tidak tau kenapa, saya menyukai kesederhanaan. Sederhana buat saya mungkin tidak dianggap sederhana untuk orang lain, atau bahkan dianggap kuno, old-style, atau apalah. Tetapi hal itu lah yang saya cari dari sebuah jam.

Ketidaksengajaan juga yang membuat saya tertarik dengan sebuah jam. 3 tahun lalu saat dalam sebuah kesempatan berkeliling di emperan malioboro, jogjakarta, selepas magrib. Saya menjumpai seorang penjual jam bekas yang menggelar dagangannya di sana. Saya melihat sebuah jam seiko yang menjadi perhatian saya. Buat saya saat itu, saya terpesona dan takjub, saya merasa jam ini adalah jam kuno, saya merasa jam ini adalah jam yang unik.

Setelah saya ngobrol dan akhirnya menunda transaksi, saya berlari ke warnet di dekat tempat itu. Saya browsing di google, dengan terlebih dahulu mencatat nomor seri yang ada di belakangnya. Dan saya menemukan jam itu ada disana. Ah, itu pertama kali saya merasakan tertarik dengan sebuah jam dengan ketertarikan yang di luar kebiasaan. Karena saya mendapatkannya dengan tidak sengaja, dan jam tersebut adalah jam antik, menurut pandangan saya.

Keesokan harinya saya kembali kesana, saya mencari pedagang jam itu dan membelinya dengan harga 150 ribu rupiah. Saya tidak tau apakah harga itu mahal, yang penting saya suka. Kondisi jam itu tidak begitu baik, dan terlihat dari luar memang ada beberapa bagian yang mungkin tidak otentik, maklum lah, mungkin si pedagang mendapatkannya dalam keadaan rusak, diperbaiki sekenanya, agar dapat dijual sebagai rejeki untuknya.
Yang penting masih bisa jalan dengan lumayan baik, otomatiknya berjalan mulus kok, walau chrononya suka ngawur.

Itu merupakan arloji seiko pertama saya. Sejak saat itu saya sering browsing di google, dan menemukan kegemaran sendiri untuk mencari produk-produk seiko lawas, terutama untuk seri chrono matiknya yang hadir di sekitar awal tahun 70-an.
Kesederhanaan sekali lagi. Kenapa saya memilih seiko, bukan rolex. Hahahaha, bilang aja tidak punya uang. Memang benar kok. Tapi saya puas untuk hal tersebut.